INTOLERANSI DAN RESISTENSI MASYARAKAT TERHADAP KEMAJEMUKAN: STUDI KASUS KERUKUNAN BERAGAMA DI KOTA BOGOR, JAWA BARAT

  • elma haryani puslitbang bimas agama dan layanan keagamaan
Keywords: Intolerance, Diversity, Moderation.

Abstract

Kota   Bogor   yang   dikenal   sebagai   kota   penyangga Ibukota Indonesia berpenduduk dengan  beragam  kelompok  agama,  etnis,  dan   suku.   Keberagamannya   itu   kerap  menimbulkan konflik, seperti konflik penyegelan    Gereja    Kristen    Indonesia    (GKI)   Yasmin,   penutupan   pesantren   Ibn   Mas’ud, kekerasan dalam acara saur on the road,  kristenisasi  masyarakat  dan  ragam  kelompok agama yang memicu kekerasan. Kasus-kasus tersebut menjadikan kota Bogor mendapat   label   sebagai   kota   intoleran.   Penelitian   ini   menggunakan   pendekatan   kualitatif.  Dengan  analisa  the  power  of   identity dan The function of social conflict  tindakan intoleransi di kota Bogor diketahui sebabnya, yaitu karena pemahaman agama yang rigid dan statis, konflik biasanya dilakukan  oleh  sekelompok  massa.  Kota  Bogor  masih  memiliki  peluang  menjadi  kota   kerukunan,   dengan   adanya   desa   model    kerukunan    Pabuaran,    kegiatan    peace  train,  dan  peran  Forum  Kerukunan  Umat Beragama (FKUB).Kata 

Kunci:  Intoleransi,  Keberagaman,   Moderasi.

The city of Bogor is known as the buffer city of the capital of Indonesia, inhabited by a variety of religious, race and ethnic groups. Its diversity often leads to conflicts, such as the conflicts of the Indonesian Christian Church (GKI) Yasmin, the closing of Ibn Mas’ud  Pesantren,  violence  in  the  Sahur on the Road program (during Ramadan), Christianization of the community, and the  variety  of  religious  groups  that  trigger violence. These cases have made the city of  Bogor  labeled  as  an  intolerant  city.  This  study  uses  a  qualitative  approach, by analyzing the power of identity and the function of social conflict, the act of intolerance  in  the  city  of  Bogor  can  be traced its roots, namely because of the rigid  and  static  understanding  of  religion. Conflict is usually carried out by a group of masses. Bogor city still has the opportunity to became a city of harmony, with the existence of the Pabuaran harmony village model, peace train activities, and the role of the Forum for Religious Harmony (FKUB).

Keywords:  Intolerance, Diversity,  Moderation.

Published
2019-12-31
How to Cite
haryani, elma. (2019, December 31). INTOLERANSI DAN RESISTENSI MASYARAKAT TERHADAP KEMAJEMUKAN: STUDI KASUS KERUKUNAN BERAGAMA DI KOTA BOGOR, JAWA BARAT. Harmoni, 18(2), 73-90. https://doi.org/https://doi.org/10.32488/harmoni.v18i2.405