TEOLOGI AGAMA-AGAMA DI INDONESIA, MENELISIK PENGEMBANGAN DAN TANTANGANNYA

  • Steve Gaspersz Universitas Kristen Indonesia Maluku
  • Nancy Novitra Souisa Universitas Kristen Indonesia Maluku
Keywords: teologi agama-agama, pluralitas sosio-budaya, identitas sosial

Abstract

Artikel ini membahas konteks sosial-budaya masyarakat Indonesia yang majemuk sebagai arena berteologi kontekstual. Salah satu pokok masalah dalam kemajemukan sosio-budaya masyarakat Indonesia, terutama sejak masa kolonial hingga pascakolonial, adalah perjumpaan berbagai tradisi keagamaan baik religiositas lokal masyarakat nusantara maupun interaksi dengan dan/atau konversi menjadi agama-agama besar dari luar. Artikel ini tidak melakukan kajian dogmatis tetapi menggunakan dialektika teologi kontekstual dan teologi agama-agama dari sudut pandang Kristianitas. Perspektif teologi agama-agama digunakan untuk menguji secara dialektis eksperimentasi teologi kontekstual Kristen di Indonesia. Model “antropologis” Bevans dipilih sebagai lensa kajian sekaligus sebagai kritik terhadap tipologi tripolar (exclusivism-inclusivism-pluralism) yang diperkenalkan oleh Alan Race. Tiga konteks kewilayahan dan kebudayaan, yaitu Yogyakarta (Jawa Tengah), Bali (Bali) dan Tana Toraja (Sulawesi Selatan), digunakan sebagai basis pengalaman berteologi. Eksperimentasi dan elaborasi teologis berbasis pengalaman pada tiga konteks itu dimunculkan sebagai proses awal untuk menemukan postur teologi agama-agama yang khas dalam kebudayaan majemuk masyarakat Indonesia.

Kata kunci: teologi agama-agama, pluralitas sosio-budaya, identitas sosial

 

This article elaborates theological issues in socio-cultural context of Indonesian society as the arena for doing theology contextually. One main issue of socio-cultural plurality in Indonesia, primarily since the colonial up till post-colonial era, is about the encounter of various religious traditions either local community’s religiosity or interaction with and/or conversion into so-called world religions from outside. This article shall not conduct dogmatic exploration but using the dialectics of contextual theology and theology of religions from Christian viewpoints. Perspective of theology of religions shall be implemented firstly to examine an experimentation of Christian contextual theology in Indonesia. Bevans’ anthropological model has been chosen as the analytical lens as well as criticism against tripolar typology (exclusivism-inclusivism-pluralism) introduced by Alan Race. Three geographic and cultural contexts, namely Yogyakarta (Central Java), Bali (Bali) and Tana Toraja (South Sulawesi) are utilized as the basis for doing contextual theology. Experience-based of theological experimentation and elaboration in those three contexts have been constructed as the beginning process to discover a model of theology of religion in Indonesia.

Keywords: theology of religions, socio-cultural plurality, social identity

Published
2019-12-31
How to Cite
Gaspersz, S., & Souisa, N. (2019, December 31). TEOLOGI AGAMA-AGAMA DI INDONESIA, MENELISIK PENGEMBANGAN DAN TANTANGANNYA. Harmoni, 18(2), 7-27. https://doi.org/https://doi.org/10.32488/harmoni.v18i2.365