PAWAI OGOH-OGOH DAN NYEPI DI PULAU SERIBU MASJID: PENGUATAN IDENTITAS AGAMA DI RUANG PUBLIK

  • Erni Budiwanti reseracher
Keywords: Toleransi Mutua, Ruang Publik, Identitas, Nyepi, Ogoh-Ogoh

Abstract

Sebagaimana telah diketahui bahwa pemerintah Indonesia mengakui 6 agama resmi: Islam, Kristen, Katholik, Buddha, dan Konghucu. Pengakuan ini diantaranya tampak dari kebijakan Pemerintah yang menetapkan upacara atau perayaan keagamaan penting sebagai hari libur nasional. Misalnya Idul Fitri yang menandai Ramadhan berakhir, Idul Adha atau lebaran Haji, Hari Kelahiran Nabi Muhammad s.aw (Maulud Nabi), Tahun Baru Islam (1 Hijir), ‘Isra Mi’raj[1] . Hari hari besar yang diperingati umat Islam ini ditetapkan sebagai libur nasional, sehingga umat agama lain yang non-Islam bisa turut menikmati liburan meski tidak melakukan ritual peribadatannya. Begitu juga ketika umat Kristiani dan Katolik merayakan kelahiran Yesus (Natal), Wafat Yesus Kristus (Good Friday), hari kelahiran Yesus (Natal), dan Kebangkitan Yesus Kristus (Paskah), maupun  umat agama lain (non-Kritiani) ikut menikmati libur bersama pada hari-hari penting keagamaan ini, meski mereka tidak memperingatinya secara keagamaan. Demikain pula pada hari kelahiran Sidarta Buddha Gautama yang dikenal sebagai Waisak yang dirayakan oleh umat Buddha, dan hari senyap atau Nyepi[2] yang diperingati umat Hindu juga ditetapkan sebagai hari libur nasional. Kesemuanya ini membuktikan multi-kulturalisme di Indonesia dan pengakuan resmi pemerintah atas berbagai event keagamaan dari masing-masing agama sebagai public holidays.  

Situasi multi agama dari masyarakat Indonesia makin dipertegas oleh pengakuan resmi dari Pemerintah akan adanya tiga macam tahun baru yang secara nasional juga ditetapkan sebagai hari libur nasional. Ini adalah Tahun baru Islam (1 Hijriah), Tahun Baru Caka atau Saka bagi penganut Hindu Bali yang sekaligus menandai perayaan Nyepi, dan tahun baru Masehi.

Pengakuan resmi Pemerintah atas keragaman agama masyarakat Indonesia bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ditetapkannya religious events atau acara-acara keagamaan sebagai public holidays, sebagaimana disebut di atas, tetapi juga kebebasan untuk menjalankan ritual peribadatan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Tulisan disini akan menitik beratkan upacara Nyepi yang tiga hari sebelumnya ditandai dengan parade Ogoh-Ogoh. Pawai Ogoh-Ogoh dan Nyepi merupakan rangkaian aktivitas keagamaan umat Hindu baik yang hidup di Bali, Lombok, dan di tempat lainnya. Bagaimana dinamika orang Hindu-Bali sebagai kelompok etnik keagamaan minoritas mempertahankan sistem kepercayaan dan pola perilaku keagamaan mereka di tengah-tengah mayoritas komunitas Muslim Sasak. Bagaimana respons masyarakat Sasak sendiri dalam menyikapi ritual kegamaan, semacam Ogoh-Ogoh, yang menyita ruang publik, melewati jalan-jalan protokol di kota Mataram, dan sedikit banyak ikut mempengaruhi suasana peribadatan kaum Muslim sendiri.

 

[1] Ini adalah hari dimana umat Islam memperingati moment ketika Rasulullah menaiki langit ketujuh untuk menerima perintas sholat secara langusng dari Allah.

[2] Hari raya Nyepi bagi umat Hindu dan Waisak bagi umat Buddha ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 3 Tahun 1983, tanggal 19 Januari 1983. Dengan adanya Kepres ini, hari libur Nyepi dan Waisak diperlakukan sama dengan hari libur keagamaan lainnya.

 

Published
2018-12-31
How to Cite
Budiwanti, E. (2018, December 31). PAWAI OGOH-OGOH DAN NYEPI DI PULAU SERIBU MASJID: PENGUATAN IDENTITAS AGAMA DI RUANG PUBLIK. Harmoni, 17(2), 208-227. https://doi.org/https://doi.org/10.32488/harmoni.v17i2.319