UPACARA HARI RAYA NYEPI SEBAGAI UPAYA PEREKAT KEBERAGAMAN; STUDI PADA PURA PENATARAN AGUNG JAGADHITA KENDARI, SULAWESI TENGARA

  • Abdul Jalil Universitas Halu Oleo
Keywords: Ceremony, Pura, Nyepi, Diversity.

Abstract

Tulisan ini hendak melihat kembali pelaksanan upacara Nyepi bagi masyarakat Hindu yang notabene hidup di Kota Kendari, sebuah kota yang bukan Bali, bukan India dan bukan pula Nepal, dua negara dan satu propinsi ini merupakan basis pemeluk agama Hindu. Artinya tentu banyak hal yang secara rinci tidak sama persis dengan pelaksanaan nyepi di Bali, India, dan Nepal. Desain atau kemasan upacara, tata cara, dan tempat ibadahnya berbeda, namun Tuhan yang dipuja adalah sama. Pelaksanaan upacara nyepi secara substansi dapat dikatakan sama karena pada hakikatnya lakon catur brata: amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.  Penelitian ini fokus pada kegiatan Nyepi di Pura Penataran Agung Jagadhita Kendari, selain sebagai satu satunya Pura terbesar di Sulawesi Tenggara, juga terletak di tengah-tengah kota Kendari. Kegiatan Nyepi bagi umat Hindu di Kota Kendari, yang tergabung dalam peguyuban Banjar Sindhu Merta kota Kendari untuk tahun saka 1940 atau tahun 2018 dengan pelaksanaan melasti (upacara penyucian) dilakukan di Pura, karena berdasarkan program kegiatan dilaksanakan dua tahun sekali dan genap tahun depan dilaksankan di laut. Proses mensucikan atau membersihkan melalui kegiatan melasti di laut ataupun hanya dilakukan di Pura melalui ngebejian memiliki makna yang sama yakni untuk membersihkan bhuana agung (alam semesta) dan bhuanaalit (manusia) sebagai persiapan untuk menyambut datangnya tahun baru saka/nyepi. Pelaksanaan hari raya Nyepi adalah sebuah lelakon bagi umat Hindu (Hinduisme) dengan bentuk melakukan puasa dari jam 06.00 sampai jam 06.00 hari berikutnya dengan tetap mengindahkan hal-hal yang tidak boleh dikerjakan atau puasa pada 4 (empat) hal: amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan.

Kata Kunci: Upacara, Pura, Hari Raya Nyepi,Keberagaman.

 

RICH UPNAMIC HOSTAYS AS A DIVERSE SEEKING EQUIPMENT

(Study At Pura Penataran Agung Jagadhita Kendari Southeast Sulawesi)

This paper is about to see the implementation of the Nyepi ceremony for the Hindu community who live in Kendari City, a city that is not Bali, neither India nor Nepal, these two countries and one province are the basis of Hindu religion. This means that many things are not exactly in the same detail as the implementation of Nyepi in Bali, India, and Nepal. The design or packaging of ceremonies, ordinances, and places of worship are different, but the worshiped God is the same. The implementation of the nyepi ceremony can be substantially the same because in essence the chess brata: observe geni, observe the work, observe the war, and observe the auction. This research focuses on Nyepi activities at Pura Penataran Agung Jagadhita Kendari, in addition to being the single largest Pura in Southeast Sulawesi, also located in the middle of Kendari city. Nyepi activity for Hindus in Kendari City, which is incorporated in Peguyuban Banjar Sindhu Merta Kendari city for the year 1940 or saga year 2018 with the implementation of melasti (purification ceremony) conducted at Pura, because based on the activity program is held every two years and even next year is done in sea. The process of purifying or cleansing through melasti activities at sea or only done in temples through ngebejian has the same meaning that is to clean the great bhuana (universe) and bhuanaalit (human) as preparation to welcome the coming new year saka / nyepi. The day of Nyepi is a Hindu (Hinduism) act with the form of fasting from 06.00 to 06.00 on the following day, keeping in mind the things that should not be done or fasting in 4 (four) things: observe geni, observe the work, observe the siege, and observe the auction.

Keywords: Ceremony, Pura, Hari Raya Nyepi, Diversity.

Published
2019-06-30
How to Cite
Jalil, A. (2019, June 30). UPACARA HARI RAYA NYEPI SEBAGAI UPAYA PEREKAT KEBERAGAMAN; STUDI PADA PURA PENATARAN AGUNG JAGADHITA KENDARI, SULAWESI TENGARA. Harmoni, 18(1), 490-503. https://doi.org/https://doi.org/10.32488/harmoni.v18i1.267